Mendefinisikan Peran #OSKM2020
Nama
saya Yasmin Khairina. Saya lahir di Kota Bogor, Jawa Barat, di tengah euforia
Piala Dunia pada bulan Juni 2002. Saya adalah si tengah dari tiga bersaudara
dari pasangan Madia Syabardhan dan Alinne Novianti. Kakak dan adik saya laki-laki,
masing-masing terpaut 5 dan 13 tahun dari saya. Sebelum masuk ke ITB, saya
menempuh pendidikan di SMAN 1 Bogor, dan SMP serta SD di Sekolah Islam Terpadu
Insantama.
Saya
sangat suka belajar hal-hal baru, saya rasa ini adalah salah satu kelebihan
yang saya miliki saat ini, yaitu kemauan belajar yang tinggi yang juga disertai
dengan komitmen. Saya tidak bilang saya pandai dalam belajar, tapi rasanya selalu
menyenangkan bisa menambah ilmu tentang hal apapun yang mungkin bermanfaat
untuk saya atau orang lain. Walaupun kadang saya sendiri tidak tahu pasti apa
manfaatnya pada saat itu, saya yakin dengan niat yang baik setiap ilmu pasti
bermanfaat juga pada akhirnya. Karena kesukaan saya untuk belajar hal baru, saya
jadi punya banyak ketertarikan. Saya tertarik pada dunia sastra dan perfilman, mungkin
karena pada dasarnya saya suka cerita sedangkan buku dan film termasuk salah
satu bentuk story-telling. Di waktu luang, saya banyak menghabiskan waktu
untuk membaca buku dan menonton film dari berbagai negara. Selain itu saya juga
menaruh minat pada perkembangan teknologi, biologi, dan energi baru terbarukan,
dimana akhirnya hal ini membawa saya masuk ke Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati
Program Rekayasa (SITH-R) ITB.
Visi
hidup saya singkatnya adalah untuk menjadi seseorang yang membawa manfaat bagi
orang-orang di sekelilingnya, bagi bangsa dan negara, bagi umat Islam dan umat manusia
pada umumnya. Untuk itu di masa depan saya ingin aktif di berbagai bidang
dengan ilmu yang saya miliki. Lebih spesifiknya, saya ingin menjadi peneliti,
pengembang produk berbasis hayati, dan pengusaha. Keinginan saya ini terkait
pula dengan rencana Indonesia 2045. Dalam perjalanan negeri ini menuju masa
keemasannya tersebut, saya ingin bisa turut berpartisipasi dengan mengembangkan
teknologi dan menyediakan lapangan kerja.
Namun saya sadar bahwa impian saya akan sulit
tercapai jika saya tidak memperbaiki kelemahan-kelemahan yang saya miliki saat
ini, seperti manajemen waktu yang buruk, mudah overthinking, hingga terlalu
perfeksionis dalam mengerjakan sesuatu. Karena itu saya ingin memanfaatkan waktu
dan kesempatan yang saya milki di ITB untuk mengembangkan diri saya secara
maksimal agar dapat mengurangi apa yang menjadi kelemahan saya tersebut dan lebih
jauhnya menambah kekuatan saya melalui ilmu, wawasan, dan skill yang
saya dapat. Strategi pengembangan diri saya di ITB selama empat tahun ke depan
adalah dengan memperluas lingkaran pergaulan saya agar bisa bertemu dan belajar
dari sebanyak-banyaknya orang, mengikuti lomba akademik maupun nonakademik
untuk menajamkan ilmu yang telah saya miliki, memulai bisnis kecil-kecilan
untuk melatih kewirausahaan saya, dan mengikuti organisasi, kepanitiaan, serta
kegiatan pengabdian masyarakat untuk menambah soft-skill dan memberikan
dampak secara riil dengan terjun langsung ke masyarakat.
Komentar
Posting Komentar